Thursday, September 20, 2012

sollu alannabi :)

When you are starving, remember the Prophet (Peace be upon him) tying two stones to his stomach in the battle of Khandaq.



When becoming angry and sad, remember the Prophet’s (Peace be upon him) control of anger and sadness on the martyrdom of his beloved Uncle HAMZAH.



When losing a tooth, remember the Prophet’s (Peace be upon him) tooth in the battle of UHUD.



When bleeding from any part of the body, remember the Prophet’s (Peace be upon him) body covered in blood stoned by the people of TA’IF.



When feeling lonely, remember the Prophet’s (Peace be upon him) seclusion in Mount HIRA.



When feeling tired in Salaat, remember the Prophet’s (Peace be upon him) bruised feet in TAHAJJUD.



When being troubled by neighbors, remember the old woman who would throw rubbish on the Prophet (Peace be upon him).



When losing a child, remember the Prophet’s (Peace be upon him) sons, ABDUL QOSIM, ABDULLAH and IBRAHIM.



When beginning a long journey, remember the Prophet’s (Peace be upon him) long journey to MADINAH in Hijrah.



When going against his Sunnah, remember the Prophet’s (Peace be upon him) love towards his ummah in his last words “Ummati, Ummati, Ummati.”



When experiencing poverty, remember the Prophet’s (Peace be upon him) days of poverty.



When losing a family member, remember the Death of Prophet’s (Peace be upon him) beloved first wife, Khadijah and Uncle, Abu Muthalib.



When becoming an orphan, remember the Prophet’s (Peace be upon him) tough life as an orphan.



When loving an orphan, remember the Prophet’s (Peace be upon him) love for ZAID IBN HARITHA.



Whatever situations you may find yourself in, remember your role model, the best of creation: Prophet Muhammad (Peace be upon him) THE CHOSEN ONE.



Now we understand why Allah has chosen Rasulullah as His messenger.
then why there is in the world still making fun of our prophet..may Allah bless them

awak tahu dosa ap yg lebih besar drpd berzina dan membunuh?

Never feel your sin is too huge for you to seek forgiveness for it.

Pada suatu senja yang lengang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung.
Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahawa ia berada dalam dukacita yang mencekam.

Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya hias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping & roman mukanya yang ayu,
tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang telah meroyak hidupnya.
Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa AS.

Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan uluk salam.
Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”.
Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk.
Air matanya berderai tatkala ia berkata,





“Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya”

“Apakah dosamu wahai wanita ayu?”, tanya Nabi Musa a.s. terkejut.

“Saya takut mengatakannya”, jawab wanita cantik.

“Katakanlah jangan ragu-ragu!”, desak Nabi Musa a.s.

Maka perempuan itupun terpatah bercerita, “Saya...telah berzina”

Kepala Nabi Musa a.s terangkat, hatinya tersentak. Perempuan itu meneruskan,

“Dari perzinaan itu saya pun lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya.
Cekik lehernya sampai mati”, ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.

Nabi Musa a.s berapi-api matanya. Dengan muka berang ia mengherdik,

“Perempuan bejad, pergi kamu dari sini!
Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku kerana perbuatanmu.
Pergi!”,teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata kerana jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu hancur luluh segera bangkit & melangkah surut.
Dia terhantuk-hantuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa.
Ratap nangisnya amat memilukan.
Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu.
Bahkan ia tak tahu mahu dibawa kemana lagi kaki-kakinya.



Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya?
Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya.
Ia tidak tahu bahawa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa.

Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya,

“Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya?
Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?”, Nabi Musa terperanjat.

“Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?”, Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

“Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang nista itu?”

“Ada!”, jawab Jibril dengan tegas.

“Dosa apakah itu?”, tanya Musa kian penasaran.

“Orang yang meninggalkan solat dengan sengaja & tanpa menyesal.
Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina”

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusyuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyedari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan; tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahawa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya.
Bererti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur & memerintah hamba-Nya.
Sedang orang yang bertaubat yang menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh bererti masih mempunyai iman di dadanya & yakin bahawa Allah itu ada, di jalan ketaatan kepada-Nya.
Itulah sebabnya Tuhan pasti mahu menerima kedatangannya.




N.B :
" barang siapa yang tidak sembahyang,maka akan ditarik cahaya iman dari wajahnya"